Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Curhat Timah Bangka Belitung: Kaya Sumber Daya, Minim Jejak Peradaban

Sebagai orang yang lahir dan besar di Bangka Belitung, saya berharap bahwa kekayaan sumber daya alam Timah ini mampu menggerakkan bukan saja ekonomi masyarakatnya, namun juga peradaban yang dimiliki. Bukan sesuatu yang utopis jika berharap harusnya ada banyak beasiswa bagi orang tidak mampu diberikan oleh mereka pengusaha atau tauke tambang timah itu, atau didirikan perpustakaan, sekolah, atau bantuan sarana prasarana untuk sejumlah sekolah dan perguruan tinggi yang ada di Bangka Belitung dari mereka yang telah kaya dari timah ini.

Namun yang terjadi tidak seindah harapan itu, dari sejumlah nama-nama besar pengusaha daerah maupun nasional yang beredar dalam sengkarut pertambangan timah di Bangka Belitung ini, sedikit dijumpai mereka berada dalam aksi-aksi sosial seperti diatas.

Ada sih yang menyumbangkan gedung, membuat jalan, perumahan-perumahan karyawan, memberi pajak bagi pemerintah pusat, serta daerah. Memang ada, yang itu terlihat hanya PT Timah Tbk saja yang dikenai mandat membangun daerah. Seperti halnya BUMN lain di pelosok Indonesia, PT Timah jujur diakui memang mereka membangun Bangka sejak dahulu kala. Namun yang lain kemana?

Ada juga sih sosok pengusaha-pengusaha yang membangun Rumah Sakit, atau Sekolah, tapi sedikit sekali tidak se-Wah jika kita melihat besaran perputaran uang selama ini. Tidak adil rasanya, betapa kekayaan yang harusnya masuk dalam retribusi pajak itu terkikis oleh betapa besarnya penyelundupan yang terjadi puluhan tahun. Meminjam kata pak Safri Samsyudin, rusaknya sudah sejak pasca reformasi ketika Timah tak lagi jadi mineral strategis itu. Lewat Kepmenperindag 558/1998 dan 146/1999 itulah membuat timah tak lagi “barang bebas ekspor” dan ditafsirkan sebagai non-strategis.

Ini bukan halu atau mengada-ada, ini fakta yang memang terjadi puluhan tahun. Kita akan terkaget sendiri betapa kok Malaysia atau Singapura menjadi eksportir timah, dengan jumlah yang besar lagi, meskipun kita tetap jadi eskportir terbesar. Namun ini tetap ironi padahal mereka tak punya SDA sekaya kita. Ibarat nya, kita punya kebun kelapa, tetangga yang tak punya kebun malah bisa menjual kelapa lebih dari kita. Kok bisa ?

Di era tahun 2008 an itu, bahkan adegan “penyelundupan” itu sudah diabadikan dalam lirik lagu “Rontok”, yang salah satu baitnya, “…Jual timah sampai Singapor, tapi aku babak belur uang ku semakin hancur…,.”

Kerusakan tata kelola timah ini bukan cerita baru. Setelah reformasi, ada masa ketika kebijakan ekspor timah dilonggarkan (akhir 1998–1999) sehingga timah dipersepsikan seperti komoditas ‘bebas’—efeknya, tambang inkonvensional tumbuh liar dan kontrol negara melemah. Lalu pemerintah mencoba menarik rem: pada 2002 ekspor timah kembali diawasi dan ekspor pasir timah dilarang. Namun di lapangan, cerita gelap tidak serta-merta berhenti: penyelundupan dan ‘jalur tikus’ tetap hidup, hanya berganti wajah dan pola. Jadi ingat kata presiden Prabowo, bahkan oknum pun bermain dalam sengkarut ini.

Perkara membangun pulau ini memang menjadi issu besar bagi saya pribadi. Maksudnya, jika anda sudah mengekploitasi sedemikian massifnya, dan sudah untung puluhan bahkan ratusan Milyar itu, apakah tak terfikirkan untuk sedikit saja membagikan sebagian kecil uang itu untuk peradaban masyarakat di Bangka Belitung ini.

Hitung-hitungan orang naif, jika 5 persen saja diambil dari 270 Trilyun itu, akan ada sekitar 13 Trilyun modal awal untuk katakanlah dana abadi beasiswa pendidikan untuk orang Bangka dan Belitung. Modal untuk membangun sekolah baru, atau gedung kuliah baru bagi sejumlah Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta yang ada di Bangka Belitung ini. Tentu saja kita masih bisa berdebat soal angka 270 Trilyun ini merupakan estimasi dari Kejagung. Namun tetap saja angka sebesar ini ibarat cermin betapa timah menarik siapapun pemain lintas sektoral dan lintas Negara.

Tak terfikirkan dari mereka para cukong atau tauke-tauke timah ini untuk membuat aula atau ruang kuliah bagi sejumlah PTS/PTS di Bangka, dengan nama mereka ada disitu ?. Orang-orang kaya di Amerika itu kadang giving back to their community, yah itu lewat sumbangan pembuatan gedung lengkap dengan sarprasnya. Namanya abadi dikenang sebagai donatur yang baik hati tentu saja selamanya. Namun ini tak berlaku untuk di Bangka Belitung tampaknya.

Bahkan untuk memberi beasiswa pun, pernah ada cerita perusahan ntah dari Singapura atau bukan di tahun 2020 an, hanya memberi satu orang saja mahasiswa. Bayangkan puluhan Milyar anda dapat, hanya diberikan untuk satu mahasiswa saja yang menghabiskan tak kurang sekitar 50 juta untuk SPP kuliah di PTN kecil di Bangka ini. Yang makin mengherankannya, adegan pemberian besasiswa itu dibuat dalam glorifikasi yang meriah  lengkap dengan tarian sambutan tamu, wartawan dan acara orasi bagi sang direktur yang jujur saya baru tau ada nama itu di Bangka Belitung.

“Please lah,bukan tak tau terimakasih, namun glorifikasi semacam ini seolah menutup fakta bahwa ini hanya remah-remah roti saja, “ Membatin saya sembari mengusap dada.

Yah mirip-mirip dengan format acara para pemilik smelter di tahun –tahun lampau dengan acara buka bersama dengan anak-anak panti asuhan. Lalu acaranya dipublikasikan dengan iklan advertorial full halaman full color di halaman belakang. Nanti berganti hari dengan perusahaan smelter yang lain namun masih dengan format acara yang sama, buka bersama anak panti asuhan.

Kasih sedikit, glorifikasi massif biar kami ini pengusaha dianggap peduli orang kecil begitu kira-kira harapan mereka-mereka itu.

Memang pada akhirnya demikian lah format itu terjadi. Semakin tersembunyi pengusaha bermain timah, maka akan semakin bagus. Kalau bisa jangan ada yang tau bahwa kami ini sebenarnya berbinis timah loh bukan pesawat terbang, misalnya yah. Atau mungkin yah, kami ini nelayan loh, namun sebenarnya membawa timah juga ke luar negeri biar bisa dijual gitu.

Semakin abu-abu, maka semakin enak dan yang pasti tidak dikenai tanggung jawab sosial. Bayangkan saja betapa banyaknya proposal masuk ke PT Timah itu, karena kayaknya hanya mereka yang jelas perusahaanya, ada karyawannya, besar gedungnya, dsb itu. Hal-hal semacam itu jelas mengganggu alur cash flow “bisnis timah ini”.


Sudahlah saya pikir tak perlu bahas lagi yang sudah-sudah, kadang keinginan kita tak sama dengan keinginan orang lain. Perspektif kita juga tak bisa juga sama dengan mereka yang kenyang atau rakus itu. Kecewa kita juga tak akan merubah harapan orang lain juga.

Hanya bisa berdoa, dan berharap semoga masih ada sisa dari kekayaan ini untuk para generasi penerus di Bangka Belitung ini. Ada penanda bahwa dulu Bangka ini maju karena Timah, tentu penanda yang akan selalu diingat dalam konotasi baik itu.

Bahwa, di suatu waktu pulau ini akhirnya menemukan orang baik yang mau merawatnya, setelah ratusan tahun dijamah tak henti. Suatu waktu dimana nanti, air kembali jernih dan laut indah dengan karang dan ikan anemo itu. Suatu hari nanti, aamiiiin.
x

Posting Komentar untuk "Curhat Timah Bangka Belitung: Kaya Sumber Daya, Minim Jejak Peradaban"